Rabu, 22 April 2015

Polio

Polio



Polio atau disebut juga dengan poliomyelitis merupakan penyakit paralisis yang dapat berakibat buruk yaitu kelumpuhan. Penyebab penyakit polio ini adalah virus. Hampir semua orang pasti tidak asing lagi dengan penyakit polio. Penyakit polio adalah salah satu jenis penyakit yang membutuhkan perhatian cukup dan pencegahan mulai sejak anak usia dini atau usia bayi.

Penyakit polio juga termasuk dalam salah satu penyakit menular. Virus yang menyebabkan polio hidup di saluran pencernaan dan juga tenggorokan, kemudian bisa menular melalui air serta kotoran si penderitanya.

Cara Mencegah Penyakit Polio

Pencegahan merupakan kunci tepat untuk menjaga kesehatan bayi dengan baik dan terhindar dari penyakit polio. Langkah pertama yang harus ditempuh adalah dengan cara mencegah penyakit polio mulai sejak anak usia dini atau usia bayi dengan melakukan imunisasi. Selain dengan memberikan imunisasi, pencegahan penyakit polio pada bayi juga bisa dengan membiasakan pola hidup sehat, menjaga kondisi fisik bayi serta kualitas gizi yang baik. Itulah beberapa cara tepat mencegah penyakit polio pada bayi.

Imunisasi sendiri merupakan proses memasukkan vaksin hidup yang telah dilumpuhkan dan berfungsi untuk mempertebal sistem imun bayi. Bayi yang memiliki sistem imunitas yang lemah sangat membutuhkan imunisasi.

Sistem kekebalan tubuh bayi masih belum bisa mengenal banyak virus asing yang masuk ke dalam tubuh mereka, sehingga jika ada virus asing masuk dalam tubuh bayi dan tidak dikenal maka virus tersebut dengan sangat mudah akan berkembang biak dan tidak bisa dilumpuhkan. Pemberian imunisasi polio pada bayi sejak usia dini merupakan cara paling tepat untuk mencegahnya.

Pemberian imunisasi polio pada bayi bisa diberikan dengan cara bertahap yaitu dalam jarak kurang dari 1 bulan dilakukan sebanyak 4 kali. Perlu bunda perhatikan bahwa pemberian imunisasi polio pada usia dini sangat dianjurkan sebelum anak memasuki usia sekolah. Efek pemberian imunisasi polio pada bayi setelah melakukan imunisasi biasanya adalah demam, namun bunda tidak perlu cemas karena demam setelah bayi melakukan imunisasi adalah  hal yang wajar.

Pemberian vaksin polio bada bayi merupakan serangkaian atau bagian dari imunisasi yang wajib dilakukan dan rutin pada bayi. Vaksin polio tersebut dibedakan menjadi  dua jenis vaksin yaitu,

Vaksin salk, adalah vaksin virus polio yang tidak aktif.
Vaksin sabin, adalah vaksin virus polio yang hidup.
Vaksin polio yang paling disukai dan mampu memberikan kekebalan tubuh sampai dengan 90% adalah vaksin Sabin per-oral yang cara pemberiannya dengan diteteskan melalui mulut. Namun, untuk penderita gangguan sistem kekebalan tubuh, vaksin polio dengan jenis ini sangat dihindari karena justru akan menyebabkan penyakit polio. Karena itu, vaksin polio jenis ini tidak diberikan pada bayi yang menderita gangguan sistem kekebalan maupun bayi yang berhubungan dekat dengan para penderita sistem kekebalan. Mengapa demikian? Karena virus hidup yang menyebabkan polio tersebut dikeluarkan melalui tinja atau kotoran penderita polio.

Begitu pentingnya imunisasi polio untuk menjaga kesehatan bayi dari berbagai macam penyakit berbahaya yang dapat merusak sistem kekebalan tubuh dan mengganggu kesehatan bayi. Imunisasi dapat dilakukan di puskesmas atau dokter anak. Ingatlah bahwa imunisasi polio merupakan salah satu cara tepat untuk mencegah penyakit polio pada bayi.

Kaki Gajah

Kaki Gajah



 Mungkin gak banyak orang yang tahu apa dan seperti apa penyakit kaki gajah itu? Karena itu, mungkin sedikit informasi ini bermanfaat bagi pembaca sekalian. 

Penyakit kaki gajah adalah sejenis penyakit menular yang terjadi akibat cacing filaria. Cacing tersebut ditularkan oleh berbagai macam jenis nyamuk melalui ggitan yang memudahkan larva cacing menyerang sistem jaringan limpa manusia. 

Kaki gajah memang bukan penyakit yang mematikan namun membuat si penderita merasa sangat malu dan mengganggu aktivitas fisik sehari-hari. Selain itu penyakit ini merupakan penyakit menetap pada tubuh manusia bila tidak segera mendapatkan penanganan, pembesaran akibat kaki gajah pun bisa menjalar ke bagian tubuh yang lain seperti lengan, dan alat kelamin. 

Salah satu hal yang perlu diingat bahwa kaki gajah dapat menular dengan sangat cepat karena ada 23 jenis nyamuk yang sanggup membawa larva cacing filariasis ke dalam tubuh manusia. Kaki gajah biasa menyerang seseorang ketika usia kanak-kanak dan memerlukan waktu lama baru kemudian si penderita dapat merasakannya. 

Gejala Klinis Penyakit Kaki Gajah

Demam berulang-ulang selama 3 hingga 5 hari.
Pembengkakan kelenjar getah bening tanpa luka yang tampak merah, dan terasa sakit.
Radang saluran kelenjar getah bening yang terasa sakit.
Nanah dan darah yang pecah akibat seringnya pembengkakan kelenjar getah bening.
Pembengkakan lengan, buah dada, dan tungkai yang terasa sakit dan panas.


Cara Mencegah Timbulnya Kaki Gajah
Ciptakan lingkungan yang bersih serta bebas dari nyamuk demi menghindari tertularnya penyakit kaki gajah. Pemberantasan nyamuk berupa fogging ini sangat membantu dalam pemberantasan mata rantai penularan. Selain itu, disarankan untuk melakukan pemeriksaan di puskesmas atau dokter untuk mengetahui apakah seseorang terbebas dari gejala kaki gajah atau tidak.

Cara Mengobati Penyakit Kaki Gajah
Ketika seseorang mengetahui adanya penyakit kaki gajah pada dirinya, maka segeralah ke rumah sakit agar dilakukan pembasmian larva yang berkembang pada tubuh penderita. Pembasmian berguna untuk mengurangi dan menekan laju penularan.

Untuk tahap selanjutnya, penderita bisa langsung diberikan Dietilkarbasin yang merupakan obat ampuh dalam membasmi filariasis. Obat tersebut memang tergolong murah dan aman. Ketika menggunakan dieltibasin, penderita kaki gajah kemungkinan akan mengalami efek samping sistemik yang bersifat sementara.

Botulism

Botulism


 Apakah sudah ada yang mengenal penyakit Botulism ? Mungkin ada juga orang yang sudah tahu dengan penyakit botulism ini, akan tetapi penyakit ini sangat langka didapati oleh orang-orang sehingga belum banyak yang mengetahui tentang penyakit ini. Jika ditelaah penyakit ini sangat serius, dan pengobatan yang perlu dilakukan untuk penyakit ini adalah dengan cara herbal. Mari kita simak penjelasan tentang penyakit botulism.

Mengenal Penyakit Botulism

Obat Botulism Tradisional
Obat Botulism Tradisional

Sebuah bakteri yang terjadi secara luas di alam dan merupakan penyebab Botulism, tetapi memiliki enam jenis utama, A sampai F. Botulism adalah penyakit langka tapi berpotensi sangat serius. Bakteri dapat memasuki tubuh melalui luka.

Sebuah keracunan, makanan berat manytimes fataj yang disebabkan oleh konsumsi makanan yang mengandung botulin. Ini mungkin ditandai dengan mual, muntah, penglihatan terganggu, kelemahan otot dan kelelahan.

Bagaimana Botulism Menular

Kasus botulism karena makanan seringkali datang dari rumah kaleng makanan dengan kadar asam rendah, seperti asparagus, kacang hijau, bit, jagung. Clostridium botulinum bakteri anaerob, yang berarti dapat bertahan dan tumbuh dengan sedikit atau tidak ada oksigen. Oleh karena itu, dapat bertahan hidup sangat baik dalam wadah tertutup. Wabah botulisme yang sering dari sumber yang lebih tidak biasa seperti cabai, tomat, dan kentang panggang benar ditangani dibungkus dalam alumunium foil.

Penyebab

Clostridium botulinum adalah organisme pembentuk spora yang umum di alam. Spora dapat ditemukan di dalam tanah dan makanan tertentu (seperti madu dan sirup jagung beberapa). Botulism pada bayi kebanyakan terjadi pada anak muda bayi antara 6 minggu dan 6 bulan. Telah dilaporkan terjadi sedini 6 hari dan sebagai akhir 1 tahun. Faktor risiko meliputi menelan madu sebagai bayi, berada di sekitar tanah yang terkontaminasi, dan memiliki kurang dari satu tinja per hari untuk jangka waktu lebih dari 2 bulan.

Gejala botulisme

Gejala awal botulisme meliputi :

Visi ganda, bicara cadel, kesulitan menelan, dan kelemahan otot. Dalam versi makanan ditanggung, gejala biasanya muncul dalam satu atau dua hari mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi. (Obat Botulism Tradisional)

Ada tiga jenis utama dari botulisme :

Bawaan makanan botulisme
Botulisme bayi
Botulisme luka
Pencegahan

Seperti banyak kuman, bakteri yang menyebabkan botulisme pada bayi di mana-mana di lingkungan. Mereka dalam debu dan kotoran. Mereka bahkan di udara. Para ahli tidak tahu mengapa beberapa bayi berakhir mengkonsumsi bakteri di udara dan kontraktor botulisme sementara yang lainnya tidak.

Pengobatan

Gejala-gejala botulisme membuat rawat inap diperlukan. Jika didiagnosis lebih awal, botulisme dapat diobati dengan antitoksin, yang menghambat aksi dari toksin yang beredar dalam darah. Hal ini dapat mencegah pasien dari memburuk, namun pemulihan masih membutuhkan beberapa minggu. Jika tidak diobati, pasien mungkin perlu pada mesin pernapasan (ventilator) selama berminggu-minggu dan akan memerlukan perawatan medis dan Keperawatan intensif. Botulisme pada bayi diobati dengan immune globulin, yang mirip dengan antitoksin. Kebanyakan kasus botulisme sembuh dengan perawatan medis yang sesuai. Tujuan pengobatan botulisme adalah untuk membentuk suatu saluran napas yang jelas, pernapasan bantuan, memberikan botulinus anti-toksin, dan memberikan terapi suportif.

Obat Botulism Tradisional selain dari keperawatan medis diatas ada baiknya anda mencoba hal baru dan lebih bermakna untuk menyembuhkan botulism ini yaitu dengan obat herbal Ace Maxs. Kami pilih Ace Maxs karena terbuat dari bahan murni alami yaitu perpaduan ekstrak kulit buah manggis dan ekstrak daun sirsak yang diolah menggunakan peralatan canggih modern dan telah teruji secara klinis. Untuk pemesanan Ace Maxs anda bisa mengirimkan sms dengan mengikuti format pesanan di bawah ini :

Kusta dan Lepra

 Kusta dan Lepra


Apa itu Lepra? Ini adalah penyakit kusta atau leprosy yang mengakibatkan kerusakan kulit dan saraf. Penyakit ini sering disalah mengerti sebagai penyakit kutukan, mitos yang berbicara mengenai pelepasan bagian tubuh dengan begitu mudahnya juga masih dipertanyakan. Walaupun penyakit ini menular, bukan berarti penderitanya tidak dapat sembuh.

Penyebab Kusta

Penyebab dari penyakit ini ialah munculnya bakteri Mycobacterium leprae yang menyebabkan infeksi kronis pada kulit. Penyakit ini juga dikenal dengan nama penyakit Hansen, guna mengingat penemunya yang berasal dari Norwegia, yaitu Gerhard Henrik Armauer Hansen. Penularan dapat dari kontak langsung maupun udara, maka itu penderitanya perlu berada dalam ruangan khusus atau ruang isolasi.

Beberapa peneliti merasa bahwa penyakit ini masuk melalui kulit dan saluran pernapasan, masa inkubasi atau hinggapnya bakteri hingga gejala utamanya muncul berkisar antara 3 hingga 5 tahun. Penyakit ini dapat tinggal cukup lama pada tubuh penderitanya, bahkan hingga 25 atau 30 tahun. Kusta sering menimpa orang yang kekebalan tubuhnya melemah.

Gejala Kusta

Gejala yang dialami pasien kusta bergantung pada jenis yang menyerangnya, misalnya; pada kusta multibasiler tampak pengurangan warna kulit (hipopigmentasi) yang disertai dengan mati rasa dalam jumlah yang cukup banyak. Sedangkan, pada kusta tuberkuloid jumlah lesi yang timbul tidak sebanyak multibasiler.

Lalu, kusta lepromatosa yang ditandai dengan munculnya lesi, plak kulit yang simetris, menipisnya lapisan kulit, tampak nodul, penyumbatan hidung, perdarahan di hidung yang disebut juga epistaksis., dan terjadi kerusakan saraf yang tidak dapat dideteksi.

Pengobatan Kusta

Pemberian kombinasi dari tiga obat berikut sebaiknya dilakukan berdasarkan petunjuk dari dokter yang menangani pasien, obat-obat ini ialah; dapson, klofazimin, dan rifampin. Obat yang disebut dapson tidak dapat di konsumsi sendiri, mengingat ini hanyalah obat pembasmi bakteri yang bisa jadi tidak tahan dengan serangan balik dari bakteri penyebab kusta, maka di khawatirkan bakteri malah kebal terhadap obat demikian. Pergilah ke dokter guna memastikannya lagi.

Sayangnya terapi multiobat ini tidaklah murah, karena seringkali berlangsung cukup lama dengan harga obat yang sangat mahal. Namun, bisa jadi dokter memiliki alternatif pengobatan bagi Anda, maka jangan menyerah sebelum mencoba! Pengobatan awal untuk kusta lepromatosa ialah 24 bulan dengan kombinasi 3 obat tersebut. Sedangkan untuk kusta tuberkuloid dibutuhkan waktu 6 bulan dengan rifampisin dan dapson. Obat-obat ini memiliki efek samping bagi hati.

Pencegahan Kusta

Pemberian vaksin Bacillus Calmette–GuĂ©rin (BCG) memberikan sejumlah perlindungan yang efektif mengatasi kusta selain penyakit tuberculosis (TBC). Berdasarkan pengujian, obat ini memiliki persentase sebesar 26 hingga 41 persen dalam mengontrol kusta. Berdasarkan pengamatan pemberian dua kali dosis vaksin lebih efektif dengan persentase 60%, namun pengembangan vaksin masih terus dilakukan.

Virus Sapi Gila

Virus Sapi Gila


Sepekan terakhir ini, industri daging asal Amerika Serikat sedang terpuruk akibat ditemukan kasus penyakit sapi gila yang pertama yang menimpa sapi perah Holstein berusia 6,5 tahun. Akibat dihentikannya sebagian besar ekspor sapi AS, sekitar 24 negara termasuk Jepang telah melarang masuknya daging sapi AS, larangan yang secara serius mengancam industri ternak AS senilai 27 miliar dolar AS dan membuat persediaan perusahaan pangan jungkir balik.
Sapi perah Holstein tersebut diduga mengidap Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE) atau penyakit "sapi gila". Penyakit ini adalah penyakit pada sapi dewasa yang menyerang sistim syaraf otak dan medulla spinalis dan bersifat fatal (fatal neurological disease). Penyakit ini selain menyerang sapi, juga dapat berjangkit pada manusia dalam bentuk creutzfeldt jakob disease (pengerutan otak) melalui konsumsi daging maupun produk turunan dari sapi yang terinfeksi. Sejak ditemukan pertama kali di Inggris pada 1986, kasus sapi gila telah memakan korban 137 orang meninggal.

BSE merupakan penyakit yang disebabkan oleh sejenis protein prion (Prion Protein/PrP) dan dikategorikan kedalam golongan Transmissiblle Spongiform Encephalopathy (TSE). Kasus pertama sapi dengan penyakit ini, ditemukan di Inggris sekitar pertengahan 80-an. Pada 1986, para ahli di Inggris menemukan bahwa penyebab BSE, penyakit yang menyerang otak ini, adalah pakan (makanan ternak). Pakan itu mengandung sisa-sisa ternak sembelihan seperti isi perut (jeroan) dan tulang belulang yang tidak dijual untuk konsumsi manusia. Sisa-sisa itu diolah menjadi makanan ternak yang disebut MBM (meat bone meal). Sejak ditemukan pertama kali di Inggris pada 1986, kasus sapi gila telah memakan korban 137 orang meninggal.

Organ-organ sapi yang paling rawan terkena penyakit sapi gila ialah otak, urat tulang belakang, mata, dan ujung usus kecil. Sapi, diduga satu-satunya jenis hewan yang dapat tertular sapi gila, karena penularan antar binatang masih belum jelas sementara kasus pada manusia sudah terbukti. Penyakit ini memiliki masa inkubasi sekitar 4 hingga 6 tahun. Masa inkubasi sapi gila pada manusia cukup panjang, yaitu antara 5 hingga 20 tahun.

Kerusakan jaringan otak pada manusia yang tertular sapi gila, dipicu oleh organisme yang menyerupai virus (protein yang bisa ditularkan, yang disebut prion). Beberapa bulan atau tahun setelah terinfeksi, tidak timbul gejala. Namun, secara perlahan, kerusakan otak bertambah dan penderita mengalami demensia (penurunan kemampuan intelektual).

Penyakit sapi gila, yang pada sapi membuat perilaku sapi menjadi agresif, pada manusia juga berdampak pada kesehatan mental dan perilaku, mendekati gila. Kelainan otak yang dialami penderita ditandai dengan penurunan fungsi mental yang terjadi dengan cepat, disertai kelainan pergerakan.

Pada awalnya, gejalanya mirip demensia lainnya, yaitu tidak peduli akan kebersihan badannya, apatis, mudah marah, pelupa dan bingung. Beberapa penderita merasakan mudah lelah, mengantuk, tidak bisa tidur atau kelainan tidur lainnya. Kemudian gejala-gejalanya dipercepat, biasanya jauh lebih cepat dari pada penyakit alzheimer, sampai penderita betul-betul pikun. Kedutan/kejang pada otot biasanya muncul dalam 6 bulan pertama setelah gejala dimulai. gemetar, gerakan tubuh yang janggal dan aneh juga bisa terjadi. Selain itu, penglihatan penderita juga kabur atau suram.

Penyakit ini tidak dapat disembuhkan, dan progresifitasnya tidak dapat diperlambat. Bisa diberikan obat-obatan untuk mengendalikan perilaku yang agresif (misalnya obat penenang, anti-psikosa). Untuk mencegahnya, dihindari pencangkokan jaringan manusia yang terinfeksi atau menghindari makan jaringan hewan yang terinfeksi.

Kalau sudah terkena, diagnosis berdasarkan kemunduran fungsi mental yang terjadi dengan cepat atau disertai oleh kedutan otot. Pemeriksaan sistem saraf dan motorik menunjukkan kedutan otot dan kejang (mioklonus). Ketegangan otot meningkat atau bisa terjadi kelemahan dan penyusutan otot. Bisa terjadi refleks abnormal atau peningkatan respon dari refleks yang normal.

Pemeriksaan lapang pandang menunjukkan adanya daerah kebutaan yang mungkin tidak disadari oleh penderitanya. Juga terdapat gangguan koordinasi yang berhubungan dengan perubahan persepsi visual-spasial dan perubahan di dalam serebelum (bagian otak yang mengendalikan koordinasi).

Pemeriksaan eeg (rekaman aktivitas listrik otak) menunjukkan adanya perubahan yang khas untuk penyakit ini. Pemeriksaan khusus terhadap jaringan otak untuk memperkuat diagnosis, hanya dapat dilakukan jika penderita sudah meninggal dan diambil contoh otaknya untuk diperiksa.

Demensia total biasanya terjadi dalam waktu 6 bulan atau lebih. Saat itu, penderita menjadi benar-benar tidak mampu merawat dirinya sendiri. Dalam waktu yang singkat penyakit ini berakibat fatal, biasanya dalam waktu 7 bulan. Kematian biasanya terjadi akibat infeksi, gagal jantung atau kegagalan pernafasan. Beberapa penderita bertahan hidup sampai 1-2 tahun setelah penyakitnya terdiagnosis.

Indonesia sendiri telah bebas BSE. Ini berdasarkan Kep. Mentan No. 367/Kpts/TN.530/12/2002 tentang Pernyataan Negara Indonesia Tetap Bebas Penyakit Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE) pada tanggal 12 Desember 2002.

Selain itu, volume impor daging sapi dari Amerika Serikat ke Indonesia per tahun 6.500 ton (kurang dari 4%) dari total impor per tahun, sedangkan sebagian besar lainnya diimpor dari Australia dan New Zealand. Terbatasnya volume impor daging dari AS tersebut antara lain disebabkan karena faktor jarak yang cukup jauh disamping faktor persaingan harga.

Untuk mencegah masuknya penyakit BSE ke Indonesia telah ditempuh beberapa kebijakan sejak terjadinya wabah BSE di dunia antara lain :

Pelaksanaan Prosedur Importasi Hewan dan Produk Hewan 
Sebelum importasi hewan dan produk hewan dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan pengkajian status hewan di calon negara pengekspor terutama terhadap penyakit hewan yang dikategorikan dalam Daftar-A OIE dan Daftar-B OIE (terutama BSE, karena sifatnya yang menular pada manusia dan belum ditemukan obatnya), diikuti pengkajian analisa resiko importasi serta pengkajian yang menyangkut Sanitary dan Phytosanitary (SPS) melalui MOU dan atau protokol kesehatan hewan,

Pembatasan Impor melalui Keputusan Menteri Pertanian dan Direktur Jenderal Bina Produksi Peternakan yang kemudian dinotifikasikan ke World Trade Organization (WTO), yaitu :
Surat Edaran Dirjen Bina Produksi Peternakan No. TN.420/167/D/0496 tanggal 22 April 1996 mengenai penghentian sementara Pemasukan Bahan Asal Ternak Ruminansia dari negara negara Eropa
Surat Edaran Dirjen Bina Produksi Peternakan No. TU210/58/E/01.2001 tanggal 29 Januari 2001 tentang Penghentian sementara Pemasukan Ternak dan Produks Ternak dari negara negara Uni Eropa
Surat Edaran Dirjen Bina Produksi Peternakan No. tn.680/35/e/01.2001 tanggal 29 Januari 2001 tentang Penghentian sementara Pemasukan Daging Sapi dari Irlandia
Notifikasi ke WTO tanggal 12 Pebruari 2001 tentang Pelarangan sementara pemasukan ternak ruminansia dan produknya yang berasal dari negara - negara Eropa
Keputusan Menteri Pertanian No. 445/Kpts/TN.540/7/2002 tanggal 15 Juli 2002 tentang Pelarangan Pemasukan Ternak Ruminansia dan Produknya dari negara tertular BSE

Kebijakan Pelarangan Penggunaan Tepung Daging, Tepung Tulang, Tepung Darah, tepung Tulang dan daging dan Bahan lainnya asal ruminansia sebagai pakan ternak ruminansia melalui Kep. Mentan No. 471/Kpts/530/7/2002 tanggal 30 Juli 2002
Melakukan survailans melalui pengamatan gejala klinis syaraf dan pemeriksaan laboratorium di seluruh Indonesia (Balai Penyidikan dan Pengujian Vereriner Regional I s/d VII, Dinas Peternakan, Pos Keswan dan Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor) sejak tahun 2000 yang mengacu pada standar Badan Kesehatan Hewan Internasional (OIE) dengan hasil hingga sekarang adanya kecurigaan terhadap BSE.
Penyiapan Kesiagaan Darurat Veteriner Indonesia (KIATVETINDO) BSE.
elakukan secara berkesinambungan penilaian resiko BSE yang meliputi kajian-kajian khususnya terhadap importasi MBM dan penelusuran penggunaan MBM, importasi ruminansia, embrio dan oval, surveilans histopatologi, produk tepung tulang, upaya kesiagaan darurat serta peningkatan kepedulian masyarakat (public awareness).
Surat Direktur Jenderal Bina Produksi Peternakan Nomor 510/2409/DKH/0503 tanggal 22 Mei 2003 perihal Penghentian Sementara Pemasukan Ruminansia dan Produknya dari Kanada.
Untuk mempertahankan status bebas BSE di Indonesia, tindakan yang dilakukan adalah :
Melanjutkan survailans dengan pengamatan klinis dan pemeriksaan laboratorium
Melakukan tindak pencegahan dan penolakan secara ketat dan tegas terhadap kemungkinan masuknya penyakit BSE sesuai peraturan perundangan yang berlaku
Sosialisasi Kesiagaan Darurat Veteriner Indonesia
Meningkatkan public awareness terhadap BSE melalui penerbitan leaflet, booklet, buku saku dan lain - lain
Meningkat kemampuan SDM di laboratorium melalui pelatihan diagnosa BSE
oordinasi dengan Departemen Kesehatan, membentuk kelompok kerja Transmissible Sponguform Encephalopathy untuk memberikan masukan kepada instansi terkait dalam menentukan skala permasalahan dan dampak yang ditimbulkan TSE di Indonesia serta dalam menentukan langkah tindak lanjut yang terkait dengan penatalaksanaan pencegahan TSE.

Naegleria (Bakteri Amoeba Pemakan Jaringan Otak)

Naegleria (Bakteri Amoeba Pemakan Jaringan Otak)


Bagi Anda yang senang berenang di kolam air tawar hangat, sebaiknya mulai mewaspadai bakteri parasit yang dapat masuk melalui hidung kemudian menjangkiti jaringan otak. Hal ini baru saja dialami seorang gadis berusia 12 tahun bernama  Kali Hardig, di Arkansas, Amerika Serikat.


Seminggu setelah gadis tersebut berenang di taman yang terletak di Little Rock, Florida, ia dirawat selama lebih dari sepekan di Rumah Sakit. Departemen Kesehatan Florida telah mengonfirmasi kasus ini disebabkan oleh parasit meningitis yang jarang ditemukan yaitu primary amebic meningoencephalitis (PAM), yang disebabkan oleh amoeba yang bernama Naegleria fowleri.

Naegleria fowleri merupakan amoeba mikroskopis bagian dari kelas protozoa—organisme alami yang biasanya memakan bakteri dan cenderung hidup di lapisan sedimen danau hangat dan kolam. Menurut data dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), korban yang terinfeksi amoeba biasanya meninggal setelah bertahan selama lima hari.

Sejak tahun 1962 hanya ada satu orang selamat. Namun, gadis 12 tahun yang terinfeksi amoeba ini kondisinya semakin membaik dan telah dipindahkan dari ruang Unit Perawatan Intensif (ICU) Rumah Sakit Arkansas. Untuk mengetahui lebih dalam tentang Naegleria fowleri, amoeba parasit yang dapat menginfeksi manusia, Jonathan Yoder seorang ahli epidemiologi di CDC mencoba memberikan informasi kepada.

Naegleria fowleri dapat membangun flagella—struktur benang-benang yang memungkinnya cepat bergerak dan mencari kondisi yang menguntungkan. Ketika kita berenang di air hangat saat musim panas di mana air tersebut telah terkontaminasi bakteri, memungkinkan amoeba menjalar melalui hidung hingga ke otak. Jika telah terinfeksi maka dapat menyebabkan sakit kepala, leher kaku, dan muntah, yang berkembang menjadi gejala yang lebih serius bahkan hingga koma dan meninggal dunia.

amoeba biasanya ditemukan di air tawar yang hangat atau di tempat-tempat dengan klorinasi minimal. Klorinasi merupakan salah satu bentuk pengolahan air yang bertujuan untuk membunuh kuman dan mengoksidasi bahan-bahan kimia dalam air. amoeba biasa ditemukan di negara-negara dengan cuaca hangat.

Tapi bukan artinya semua orang yang berenang langsung terjangkiti. Sebab, jutaan orang berenang dengan seluruh tubuhnya menyelam ke dalam air namun tidak menjadi sakit. Sementara itu sebagian lain berenang di tempat yang sama, melakukan hal sama malah terinfeksi bakteri. "Hal ini dapat terjadi dan menyerang siapa saja tanpa bisa kita prediksi," ujar Yoder.

Sejak tahun 1962, dari 128 kasus infeksi Naegleria fowleri hanya satu yang selamat. Di tahun 1978 pasien tertolong namun harus menjalani perawatan dengan mengonsumsi antibiotik.

Lebih lanjut Yoder menjelaskan, guna mengurangi risiko, sebaiknya saat berenang di air hangat  menggunakan klip hidung. Cara lainnya yakni menghindari mengaduk sedimen di danau dan kolam, tempat di mana amoeba hidup.

Bakteri Kebal Antibiotik

Bakteri Kebal Antibiotik



Pengobatan modern merupakan hal yang luar biasa karena berdampak sangat besar dalam menekan angka kesakitan serta kematian di seluruh dunia. Namun salah satu bagian di dalamnya, yaitu antibiotik, tengah terancam manfaatnya. Dan mungkin manusia juga lah yang perlu bertanggung jawab.

Bakteri penyebab infeksi dan penyakit yang resisten terhadap antibiotik tidak bisa disembuhkan. Sayangnya, kasus bakteri yang resisten terhadap antibiotik kini dijumpai di setiap negara. Bakteri Staphylococcus aureus, E Coli, dan K pneumonia merupakan contoh-contoh strain yang telah kebal terhadap antibiotik.

Dalam beberapa kasus antibiotik dianggap sebagai obat pertahanan terakhir, hanya digunakan ketika obat lain tidak mampu melawan infeksi. Namun efikasi antibiotik itu pun sudah berkurang setengahnya.

Menurut Stephen Gluckman, direktur medis di Penn Global Medicine, peran manusia tidak bisa dipisahkan dari timbulnya resistensi antibiotik oleh bakteri. Pasalnya, penggunaan antibiotik berlebihan lah yang menyebabkan kondisi demikian.

"Pasien mengharapkan selalu diberikan obat setiap pergi ke dokter meskipun sebenarnya mereka tidak memerlukannya. Inilah yang menyebabkan penggunakan antibiotik yang berlebihan," ujarnya.

Bahkan, pasien seringkali menggunakan antibiotik untuk mengobati infeksi virus. Padahal antibiotik sama sekali tidak memiliki efek pada virus. Antibiotik seharusnya hanya digunakan untuk mengobati infeksi bakteri.

"Ketika antibiotik digunakan untuk mengobati banyak penyakit (yang seharusnya tidak perlu), bakteri yang ada di dalam sistem tubuh pun akan mati. Padahal bakteri itu bukanlah yang menyebabkan penyakit. Dan jika suatu saat seseorang terkena penyakit yang memang membutuhkannya, antibiotik justru tidak lagi efektif," jelas Gluckman.

Ancaman resistensi antibiotik ini nyata, maka ada beberapa hal yang perlu Anda lakukan untuk melindungi diri dan orang-orang di sekitar kita.

- Cuci tangan secara teratur. Ini kedengarannya sederhana, namun terbukti efektif dan murah untuk mengurangi jumlah bakteri penyebab penyakit.

- Jika merasa sakit, jangan langsung minum obat. Tunggu hingga beberapa hari untuk memberikan kesempatan bagi tubuh untuk sembuh secara alami.

- Jika perlu minum antibiotik, lakukan dengan benar. Ikuti resep hingga antibiotik habis.